Pelayanan Prima Dalam Pendidikan Berdasar Spiritualitas CB : Yulita Rintyastini, S.Pd

pelayanan prima

PENDAHULUAN

Sekolah sudah saatnya menerapkan pelayanan prima. Buku Panduan dasar pelayanan prima, memberi tuntunan dalam menampilkan sikap/tata cara pelayanan yang berkualitas ,  yang digunakan sebagai dasar bersikap bagi seluruh komponen organisasi.Kecepatan pelayanan, ketepatan, keramahan, kenyamanan, merupakan komponen yang terintegrasi yang harus dipenuhi oleh organisasi, termasuk unit sekolah. Pelayanan yang lambat dan hasil yang tidak maksimal disertai sikap garang tentu menjauhkan hati pelanggan. Keberhasilan implementasi pelayanan prima tidak semata-mata berfokus pada pelanggan eksternal, tetapi juga pelanggan internal.2 Melalui pelanggan  internal maupun eksternal dapat dijaring keinginan /harapannya untuk dapat terus diupayakan pemenuhan kebutuhannya.  Pelaksanaan layanan prima tidak akan berhasil tanpa kerja sama seluruh komponen sekolah. Pelayanan terbaik dan sepenuh hati, artinya seorang personil institusi dalam melakukan pelayanan tidak hanya sekedar melayani dengan sederetan instruksi kerja melainkan juga melayani dengan penuh kesadaran dan sentuhan kehidupan terhadap yang dilayani.

Jatuh bangun dirasakan untuk kembali menegakkan langkah dan komitmen dalam memperjuangkan agar pelayanan kami dikatakan prima,  dan mencoba mengevaluasi/mengukur sejauhmana kepuasan layanan yang  dirasakan oleh pelanggan. Berbagai tantangan dan persoalan yang muncul untuk mewujudkan gerakan pelayanan prima antara lain miskomunikasi, service dirasa kurang memuaskan, prosedur/system yang belum dipahami sepenuhnya, juga profesionalisme.

Perwujudan Pelayanan Prima tersebut tidak bisa lepas dari spriritualitas konggregasi CB dalam karya pelayanan pendidikan yang berlandaskan pada enam unsur pokok sebagai panduan kebijakan-kebijakan operasional dalam menata dan mengelola karya pendidikan. 3

 

Unsur-unsur pokok semangat dasar pendiri CB adalah : Cinta kasih tanpa syarat dan berbelarasa, Iman yang dalam, Menghargai harkat dan martabat manusia, Memiliki daya juang dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan hidup, Memiliki kamauan untuk maju dan berkembang dengan tekun dan sabar, rela berkorban dan melayani sesama dengan tulus hati.

Pelayanan Prima yang dijiwai Spriritualitas CB.

Membicarakan pelayanan prima, tidak lepas dari kinerja seluruh komponen sekolah. Institusi sekolah merupakan tempat berkumpulnya sejumlah orang untuk mencapai tujuan tertentu, untuk mencapai tujuan terbaik perlu ditopang oleh personil institusi yang mempunyai semangat berprestasi yang tinggi. Apakah kita sudah mempunyai semangat untuk berprestasi dalam bekerja? Salah satunya dengan melaksanakan konsep pelayanan prima, agar dapat mendukung keinginan institusi menjadi institusi terbaik. Pertanyaan selanjutnya, usaha-usaha apakah yang sudah dilakukan untuk dapat mewujudkan pelayanan yang prima di SMA Tarakanita Gading Serpong?

Mulai diperkenalkan dan dipahami bahwa pelayanan prima menjadi sebuah gerakan untuk menarik pelanggan memilih sekolah Tarakanita, maka upaya-upaya perbaikan – perbaikan dalam layanan dilaksanakan. Sudah disebutkan bahwa pelayanan prima adalah pelayanan dengan sepenuh hati, maka setiap personil sekolah, mulai ditanamkan bagaimana menghargai diri sendiri, menghargai orang lain, dan menghargai pekerjaannya. Ketiga paradigma ini merupakan pondasi untuk memunculkan sikap-sikap yang diperlukan untuk mencapai prestasi, yaitu sikap penuh gairah, progresif, proaktif, dan positif. Sikap bergairah dalam melaksanakan aktifitas akan memunculkan rasa senang dalam memberikan pelayanan, sikap progresif akan memunculkan cara-cara baru dalam melaksanakan pelayanan, sikap proaktif menumbuhkan sikap bekerja lebih dari sekedar apa yang seharusnya, sedangkan sikap positif menumbuhkan sikap pantang menyerah dan berpikiran positif, terbuka dalam melaksanakan pelayanan. Jika ketiga paradigma menghargai diri sendiri, menghargai orang lain, dan menghargai perkerjaannya di bangun dengan kokoh, maka sikap yang tumbuh diatasnya juga akan kuat dan akhirnya prestasi kerja juga mempraktekkan prinsip pelayanan prima. 4

Bagaimana personil  menghargai diri sendiri sebagai pribadi yang istimewa, mampu menghargai kemampuan/ketrampilann yang dimilikinya, mampu menjaga penampilannya sehingga terpancar rasa percaya diri dalam pelayanan.


Bagaimana personil menghargai orang lain, antara lain pada saat satpam, TU, PP, guru, melayani siswa/orangtua/tamu, saat personil bekerjasama dengan rekan sejawat/rekan kerja, bagaimana personil menghargai pekerjaan yang ia lakukan. Kadar penghargaan terhadap pekerjaan yang dilakukan menentukan tingkat kualitas pelayanan yang diberikan. Berbicara kualitas pekerjaan, nampak bervariasi antara personil satu dengan yang lain,  sikap gairah/rasa senang dalam melayani, sikap memunculkan cara-cara baru dalam pelayanan, sikap bekerja lebih dari yang seharusnya, sikap pantang menyerah, berpikir positif, terbuka dalam pelayanan, masih perlu diupayakan agar tidak terjadi kesenjangan yang mencolok antara satu dengan yang lain.

Budaya melayani dengan sepenuh hati sesuai  tiga paradigma yaitu menghargai diri sendiri, menghargai orang lain, dan menghargai pekerjaan, akan terus menyala dengan didorong oleh Spiritualitas Bunda Elisabeth. Pelayanan berdasar cinta kasih tanpa syarat dan berbela rasa, menjiwai seluruh komponen sekolah dalam melayani peserta didik dan stackholder lainnya. Pelayanan dengan terus membuka diri kepada yang ilahi dan membangun solidaritas dengan sesama sehingga terwujudlah penghargaan terhadap orang lain dengan tulus dan berbela rasa berkembang dan berbuah dalam komunitas pendidikan. Perjumpaan dan kepeduliaan kepada mereka yang kita layani merupakan panggilan untuk mewujudkan karya cinta kasih dan pembebasan. (bdk. Mat 35 : 35-40). Dengan Iman yang dalam, meski upaya untuk melayani sepenuh hati itu tidak mudah, kita dapat merasakan kehadiran-Nya dan berkat iman, kita mampu mengakui Allah yang selalu dan senantiasa memenuhi kebutuhan kita. Oleh karena itu kita tidak perlu kuatir akan hidup kita. Keyakinan akan Allah sang sumber hidup sangat tampak dalam hidup Bunda Elisabeth yang sekalipun sudah tua, tidak memiliki cukup bakat, miskin (EG 8, 19, 24, 25) dan tidak berdaya (EG 54), namun yakin bahwa Tuhan benar-benar memanggil dan menghendaki dirinya untuk mengabdikan kepadaNya (bdk. EG 5). Dengan spirit ini mendorong kami memiliki keberanian menghargai diri sendiri sebagai pribadi yang istimewa, mampu menghargai kemampuan/ketrampilann yang dimiliki, mampu menjaga penampilan sehingga terpancar rasa percaya diri dalam pelayanan sehari-hari. Spirit menghargai harkat dan martabat manusia juga menjiwai pelayanan dalam pendidikan, dimana merupakan salah satu sarana membantu manusia dalam mengembangkan akal budi, perasaan, hari nurani, kehidupan sosial, dan kerohanian sehingga bertumbuh menjadi pribadi utuh dan seimbang. Jika ini dilaksanakan dengan sepenuh hati maka layanan prima juga terwujud di kalangan pendidikan. Memiliki daya juang dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan hidup, hal ini jika dikaitkan dengan penghargaan kita terhadap pekerjaan kita sebagai pendidik, dapat meneladan bunda Elisabeth yang memiliki ketangguhan dan keberanian dalam menghadapi tantangan hidup dan keterbukaan untuk menghadapi tanda-tanda zaman. Bunda Elisabeth tidak gampang menyerah , dengan kesabaran dan susah payah terus bekerja karena memiliki keinginan yang besar untuk maju (EG 53), yaitu merawat dan mendidik anak-anak miskin. Bunda Elisabeth memiliki keberanian mengambil resiko demi Allah yang dilayaninya. Menampilkan kegairahan dalam bekerja, senang dalam melayani dapat terus bertumbuh dengan spirit bunda Elisabeth. Memiliki kemauan untuk maju dan berkembang, salah satu cara dengan mengembangkan kreativitas, melalui kreativitas dalam pelayanan di sekolah akan menarik dan peserta didik akan tertarik dan semangat dalam belajar. Layanan pembelajaran yang prima dapat membawa sekolah semakin maju. Rela berkorban dan melayani dengan tulus hati, ini merupakan puncak dari pelayanan prima, yaitu pelayanan dengan tulus hati. Bukan hanya dengan sesama, melainkan juga dengan lingkungan alam sekitar.

Menuju pelayanan prima

Berdasarkan  data yang sudah didapatkan melalui berbagai sumber, SMA Tarakanita masih harus terus berusaha  untuk meningkatkan pelayanan agar hasilnya lebih baik lagi. Upaya membangun team kerja yang solid, merupakan salah satu cara agar seluruh personil dapat melakukan kinerja yang terbaik. Kinerja mereka sangat mendukung tercapainya program sekolah. Ada beberapa faktor yang mendasari pentingnya membangun team kerja yang solid : 1). Menyadari bahwa pemikiran dua orang atau lebih cenderung lebih baik daripada satu orang. 2). Konsep sinergi, yaitu bahwa hasil team jauh lebih baik daripada individu. 3). Anggota team mengupayakan saling mengenal dan percaya sehingga dapat saling membantu. 4). Meningkatkan kerjasama sehingga komunikasi terbina dengan baik. 5). Menanggalkan identitas pribadi. 6). Masing-masing anggota saling menjaga keharmonisan hubungan. 7). Adanya keterbukaan diantara sesama anggota. 8). memiliki visi, misi , tujuan,  dan motivasi yang sama dalam memajukan organisasi. 9). Rasa ikut memiliki dan komitmen. 5 Sebagai team ada pembagian dan pendistribusian tanggung jawab dan wewenang  dengan baik kepada setiap anggota. Hal ini sejalan dengan pengembangan SDM berbasis kompetensi (CBHRM) dengan langkah membuat peta tanggung jawab yang selanjutnya diturunkan ke dalam IBSC masing-masing karyawan. Masing-masing anggota saling membantu dalam beradaptasi terhadap perubahan secara positif. Team work yang berhasil haruslah memiliki visi misi yang sama, yaitu visi misi sekolah, yang diturunkan dari visi misi Yayasan Tarakanita. Tentu tidak lepas dari spiritualitas pendiri konggregasi CB, yaitu Bunda Elisabeth. Dengan demikian perlu diberikan pelatihan bagaimana membangun team kerja yang baik. Disamping pelatihan membangun team kerja, sebaiknya selalu menjaga penampilan, bagaimana  menjaga sikap tubuh yang baik, bagaimana  menerima dan bertelpon yang baik, bagaimana  sikap guru dalam mengajar, bagaimana mengelola area kerja sesuai standar,  budaya di atas dapat  berjalan dan menjadi milik dan terus menyala, dengan spririt Bunda Elisabeth.

 _______________________________________
1 Panduan Dasar Pelayanan Prima Yayasan Tarakanita, 2011.
2 Pelayanan Prima.Dedi_Setyono@yahoo.co.id.
3. Pedoman Pelaksanaan Spiritualitas CB untuk pelayanan Pendidikan.
4 Pelayanan Prima : Satu Langkah Maju Menjadi Institusi Terbaik, Sharing Seorang Guru, 13 Januari 2009.
5 Kunci Sukses Membangun Teamwork, oleh Nova S., 25 Desember 2009
 
 
 
 
 

 

About the author

admin

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Powered by WordPress | Deadline Themes : An AWESEM design